Jadi Freelancer Indonesia Wajib Hindari Kebiasaan Buruk Ini

Freelancer Indonesia – Sudah menjadi kelebihan bekerja sebagai freelancer untuk memiliki waktu dan ruang kerja yang fleksibel, jam kerja yang diatur sendiri, penentuan upah hasil kerja sesuai keinginan, tanpa kawatir harus berkutat dengan aturan dari orang lain. Sekilas, freelancing terlihat menyenangkan dan menggiurkan, karena dengan modal dan gerak sedikit, freelancer Indonesia bisa menghasilkan pendapatan lebih banyak bahkan dari pekerja tetap.

Meski banyak keuntungan yang dihasilkan dari freelancing, ada beberapa kebiasaan buruk yang kerap menjangkiti freelancer Indonesia, yang seringkali menyebabkan mereka mengalami kerugian. Sebagai freelancer, jika tidak mendapat proyek maka tidak ada bayaran. Nah, bagaimana jika kebiasaan buruk ini adalah biang dari ‘tidak ada bayaran’?

Tidak semua beban pekerjaan freelancing berasal dari project brief. Bisa juga dari kebiasaan buruk yang semakin menumpuk dan akhirnya merusak aktivitas pekerja. Apa saja kebiasaan buruk yang umumnya melekat pada freelancer Indonesia dan bagaimana mengatasinya?

Menunda Pekerjaan

Ini adalah satu dari yang paling sering menjangkiti freelancer Indonesia. Fleksibilitas waktu yang dimiliki tidak dikelola dengan baik, sehingga proyek tertunda. Memang terkadang membutuhkan waktu untuk beristirahat melepas penat dari aktifitas berpikir. Namun jika hal ini dibiarkan tanpa pengendalian, pekerjaan bisa molor atau tidak selesai sama sekali.

Solusinya adalah membiasakan diri disiplin waktu, pola istirahat, dan pola makan. Jika freelancing merupakan usaha sampingan, maka sebisa mungkin ada waktu tetap untuk mengerjakan proyek meski hanya 1 hingga 2 jam. Buatlah task-to-do jika diperlukan.

Bermalas-malasan

Jika terbiasa menunda pekerjaan, maka akan timbul penyakit baru : malas. Ini juga menjadi kebiasaan buruk yang paling sering ditemui pada freelancer Indonesia. Jika penyakit ini tidak segera dihilangkan, efek yang timbul adalah upah tidak teratur, pemasukan berkurang, reputasi menurun, dan kepercayaan konsumen terhadap freelancer menghilang.

Tentu ini akan sangat berimbas pada kehidupan freelancer. Agar rasa malas ini pergi, cara mengatasinya dimulai dari niat dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri. Berpikirlah bahwa konsumen akan memberikan loyalitas tingginya seiring dengan ketekunan dan ketepatan pengerjaan yang ditunjukkan.

Menutup Diri

Karena rutinitas freelancer bisa dilakukan di dalam rumah atau kamar, maka pekerja seringkali menutup diri dan betah berlama-lama di depan desktop/PC. Hal ini justru membuat freelancer menjadi kurang bersosialisasi. Pada kasus lain tercatat adanya kecanduan bekerja hingga lupa waktu dan tidak berinteraksi sama sekali, bahkan dengan keluarga. Freelancer dengan kebiasaan buruk ini justru terkesan tidak ramah, kikuk, dan mudah emosi.

Kontrol ego dan menahan kuota pengerjaan proyek freelance adalah salah satu solusinya. Sesekali freelancer harus menghirup udara segar luar rumah agar pikiran kembali fresh dan kehidupan sosial kembali normal.

‘Kapal Pecah’

Tahu istilah ‘rumah kapal pecah’? Kondisi berantakan akut seperti sering juga ditemui pada freelancer Indonesia yang menjadikan freelancing sebagai ladang penghasilan selain pekerjaan tetap. Seharian berkutat dengan rutinitas, kemudian waktu luang digunakan untuk freelancing. Hampir tidak ada waktu untuk mengurus rumah.

Kebiasaan buruk freelancer Indonesia membiarkan rumah berantakan karena sibuk freelancing bisa diantisipasi dengan time management yang baik dan penerapan yang rutin. Keajegan menerapkan pengelolaan waktu dengan efektif bisa didukung dengan membuat checklist pekerjaan rumah yang biasa dilakukan sebelum dan sesudah bekerja di kantor, serta sebelum dan sesudah kerjakan proyek freelance.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *